Senin, 11 Februari 2013

Hubungan Komunikasi Dengan Politik

Antara Komunikasi dan Politik Terdapat 2 displin yang sama sama tergolong ke dalam ilmu sosial. Menurut Pye (1963), Hubungan tersebut di nilai sangat intim dan istimewa karena di dalam kawasan politik, proses komunikasi politik menempati fungsi yang fundamental. Bagaimanapun pendekatan komunikasi telah membantu memberikan pandangan yang mendalam dan lebih halus mengenai perilaku politik.  

Pada tingkat teori, hubungan tersebut mula-mula dapat ditelusuri melalui peranan sejumlah ilmuan politik dalam perkembangan teori dan penelitian komunikasi. Wilbur Schramm (1980) menempatkan ilmuwan politik terkemuka pada urutan pertama dari empat orang  yang disebut Bapak Pendiri Studi Komunikasi di AS.
Tokoh  dimaksud adalah Harold D. Lasswell (1902-1980), yang pada tahun 1927 menulis Propaganda “Technique in the World War”, sebagai disertasi doktornya. Tiga tokoh lainnya datang dari disiplin psikologi Karl Lewin, Paul Lazarsfeld dan Carl Hovland.
Di antara karya Lasswell yang tidak terhitung jumlahnya, tulisan yang berjudul “The Structure and Function of Communication Society”, adalah merupakan tulisan yang sangat legendaris, dimana mengajukan rumus:
Who, says what, to whom, whit what channel and with what effect
Rumus ini merupakan salah satu bahan penting yang tidak pernah dilewatkan oleh mereka yang mempelajari ilmu komunikasi.
Pengaruh rumus tersebut di kalangan para pembahas komunikasi politik, hingga sekarang masih tampak jelas dalam sistematika mereka mengkaji masalah ini, yang dikenal sebagai Lasswellian frame work.
Gabriel A. Almond yang dikenal sebagai profesor di bidang ilmu politik di Stanford University harus dicatat sebagai penyumbang yang bermakna dalam rangka pemahaman komunikasi dalam suatu sistem politik.. Baik melalui tulisannya sendiri (1960) maupun bersama Verba (1966), Coleman (1960), Powel (1978) ia telah meletakkan dasar-dasar konseptual untuk menganalisis dan memahami fungsi komunikasi dalam tatanan suatu sistem politik.
Ilmuan politik lainnya yang penting peranannya dalam mempertautkan disiplin komunikasi dan politik adalah I Thiel de Sola Poll, V.O. Key dan G.A. Almond. Mereka ini termasuk di antara sejumlah tokoh yang pernah menjadi murid dan asisten Lasswell. Tokoh lain dari ilmuan politik yang mempertautkan komunikasi dalam studi politik adalah antara lain: Frederich W Prey, Karl V Deutsch, Walter Lippman, Arthur F Bantley, dll.
Disiplin komunikasi sendiri telah menghasilkan sejumlah kepustakaan teori dan penelitian yang jika ditelaah sarat dengan pembahasan baik yang langsung maupun tidak langsung menyentuh kawasan ilmu politik. Sejumlah karya utama penelitian komunikasi yang langsung menghampiri bidang politik adalah penelitian mengenai pelaku pemberian suara (voting  study) dan pengauh komunikasi massa bagi respon khalayak terhadap kampanye dan keputusan pemberian suara yang mereka lakukan dalam pemilihan umum. Studi-studi tersebut antara lain adalah :”The people Choice” oleh Paul L. Lazarsfeld, Bernard Barelson dan Hazel Gaude.
Tidak berlebihan jika dikemukakan bahwa tidak ada suatu buku atau publikasi komunikasi yang tidak menyinggung pembahsan yang berkaitan dengan bidang politik. Di bawah kata-kata kunci seperti: efek politik media massa, soialisasi, propaganda, kampanye, peranan politik pers, pembentukan dan perubahan attitude, opini publik, kepemimpinan  opini, perilaku media, dan sebagainya,senantiasa tercakup ulasan yang menyinggung lapangan politik kaitannya dengan proses komunikasi.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwasanya hubungan antar disiplin komunikasi dan politik, baik pada tingkat teori, konsep-konsep, maupun penelitian telah terjadi sejak awal perkembangan kedua disiplin itu hingga kini.
Ilmuan politik, seperti Lasswell sadar bahwa pentingnya makna strategis pengendalian komunikasi bagi arena kekuasaan. Lebih jauh dikatakan (Deutsch dan Russelbach 1965) teori komunikasi memungkinkan kita untuk melihat soal yang pelik seperti masalah kesadaran dan kemauan politik menjadi suatu proses yang mudah diamati.

Komunikasi Politik dalam Praktek
Dalam kehidupan nyata sehari-hari, semua orang baik pejabat maupun warga negara biasa, memerlukan informasi tentang apa yang terjadi di sekelilingnya, agar ia memperoleh bekal yang cukup untuk mengambil keputusan dalam menjalani agenda hidup masin-masing. Informasi hanya bisa diperoleh bila sistem yang menyebarkannya berfungsi dengan baik, sehingga setiap pihak berksempatan memperoleh apa yang diperlukan masing-masing. Kacuali itu, informasi yang diperlukan tersebut harus pula efektif dalam arti benar-benar memenuhi kebutuhan pihak yang membutuhkannya.
Salah satu jenis informasi yang diperlukan dalam hidup bernegara adalah mengenai kegiatan masing-masing pihak menurut fungsinya. Pemerintah menyebarkan informasi tentang kegiatan rakyatnya, sedangkan rakyat sebaliknya, harus pula mengetahui apa yang dikerjakan oleh pemerintahnya.
Itulah sebabnya teori-teori mengenai sistem politik demokrasi selalu memberi tekanan mengenai keharusan adanya kebebasan pers (freedom of the pers) dan berbicara(freedom of speech) serta menyatakan pendapat (freedom of expression) antara lain agar masyarakat bisa memeriksa akrivitas pemerintah mereka dan memberikan masukan yang mereka anggap perlu. Menurut Davison (1965), banyak dari karakteristik demokrasi yang tergantung pada adanya akses yang bebas bagi semua kelompok warga negara kepada saluran-saluran komunikasi baik dalam kedudukan mereka sebagai sumber (source) maupun sebagai khalayak (audience).
Pada pihak lain, para pemimpin totaliter mendominasi lembaga-lembaga informasi tersebut dan memanipulasi informasi yang tersedia bagi warga negaranya. Dalam situasi negara seperti itu, tentulah asas-asas penting demokrasi yang disebut diatas tidak menjadi dasar yang menentukan dalam kehidupan politik di negara yang dimaksud. Sebagai konsekuensinya, arus-arus informasi komunikasi politik di negara semacam ini tidak timbal balik melainkan hanya searah, dari pemerintah pada rakyat.
Sejak masa kerajaan-kerajaan historis dahulu kala pun, struktur komunikasi khusus untuk kepentingan politik suatu negara, bahkan dengan pembiayaan yang cukup besar untuk memelihara sumber-sumber (resources) adalah amat pentung bagi arus informasi yang dibutuhkan .
Di jaman Jengis Khan misalnya, kerajaan itu punya sistem pengiriman surat (kurir) yang menghubungkan seluruh wilayah kerajaan dengan kecepatan yang mengagumkan. Kerajaan Mesopotamia (Mesir Kuno) mempertautkan arus komunikasi di wilayahnya melalui armada perahu yang berlayar sepanjang sungai Nil.
Di jaman sekarang, kita saksikan sendiri betapa setiap negara melengkapi diri dengan perangkat komunikasi yang mampu meliput setidak-tidaknya sebagian terbesar wilayah kekuasaannnya dengan tujuan menjangkau bagian terbesar khalayak yang mempunyai potensi  politik bagi kelangsungan sistem politik negara yang bersangkutan.

Apa Komunikasi itu?
Bahkan pada musim inflasi definisi komunikasi seakan-akan diobral. Bergantung pada titik pandangnya :
Komunikasi adalah pengalihan informasi untuk memperoleh tanggapan.
*    Pengkoordinasian makna antara seorang dan khalayak
*    Saling berbagi informasi, gagasan atau sikap.
*   Saling    berbagi unsur-unsur perilaku atau modus kehidupan melalui perangkat-perangkat aturan.
*   Penyesuaian pikiran, penciptaan perangkat simbol bersama di dalam pikiran para peserta, singkatnya,  suatu penertian..
*   Pengalihan informasi dari satu orang atau kelompok kepada yang lain, terutama dengan menggunakan simbol.
*   Suatu peristiwa yang dialami secara internal, yang murni personal yang dibagi dengan orang lain.
Letak ciri utama komunikasi
·    Orang mengamati berbagai hal, menginterpretasikannya, menyusun makna, bertindak berdasrkan makna itu.,dengan demikian, mengungkapkan makna itu.
Ada tiga jenis yang diamati orang:
1.  obyek fisik yang beraneka ragam sejak kursi, tumbuhan, dan mobil sampai dengan keadaan cuaca.
2.  obyek sosial, baik orang lain maupun dirinya sendiri.
3.  obyek abstrak, seperti gagasan. ajaran, perasaan, dan keinginan.
Tindakan apapun yang dilakukan seseorang dalam kehadiran orang lain (bahkan secara diam-diam, dengan menghindari pandangan, atau pergi, apalagi berbicara) memiliki nilai pesan. Artinya, setiap tindakan adalah sesuatu yang orang lain dapat diamati , mengiterpretasikan,  membaca makna dan menggunakannya untuk menyusun suatu kesan atau cerita
Bila disederhanakan:“seseorang tidak dapat tidak berkomunikasi bila dihadiri oleh orang lain”

Apa Politik dan Komunikasi Politik?
Sebagaimana komunikasi, terdapat berbagai macam definisi tentang politik:
·    Politik adalah, siapa memperoleh apa, kapan, dan bagaimana.
·    Pembagian nilai-nilai oleh yang berwenang.
·    Kekuasaan dan pemegang kekuasaan.
·    Pengaruh
·    Tindakan yang di arahkan untuk mempertahankan dan atau memperluas tindakan lainnya.
Dari semua pandangan yang beragam itu, ada penyesuaian umum bahwa politik mencangkup sesuatu yang dilakukan orang. Politik adalah kegiatan. Dan Nimmo (1989) mengartikan politik, kegiatan orang secara kolektif yang mengatur perbuatan mereka di dalam kondisi konflik sosial.
Dalam berbagai hal, orang berbeda satu sama lain – jasmani, bakat, emosi, kebutuhan, cita-cita, inisiatif, perilaku, dan sebagainnya – dan perbedaan ini merangsang argumen, perselisihan, dan percekcokan. Jika mereka menganggap perselisihan itu serius, perhatikan mereka dengan memperkenalkan masalah yang bertentangan itu, dan selesaikan, inilah kegiatan politik.
Politik adalah kegiatan berkomunikasi antar orang-orang. Komunikasi meliputi politik. Bila orang mengamati konflik, mereka menurunkan makna perselisihan melalui komunikasi. Bila orang menyelesaikan perselisihan mereka, penyelesaian itu adalah hal-hal yang diamati, diinterpretasikan, dan dipertukarkan melalui komunikasi. Banyak aspek kehidupan politik dapat dilukiskan sebagai komunikasi.
Komunikasi politik, yaitu (kegiatan) komunikasi yang dianggap komunikasi politik berdasarkan konsekuensi-konsekuensinya (akutual meupun potensial) yang mengatur perbuatan manusia di dalam kondisi-kondisi konflik.

Minggu, 10 Februari 2013

Sistem Komunikasi

SISTEM KOMUNIKASI

A. Pengertian Sistem
Sistem berasal dari bahasa Yunani, sistema, yang berarti suatu keseluruhan yang tersusun dari sekian banyak bagian (Shrode dan Voich, dalam Nurudin, 2004). Serupa dengan pendapat Shrode dan Voich, Littlejohn(1999) mengartikan sistem sebagai seperangkat hal-hal yang saling mempengaruhi dalam suatu lingkungan dan membentuk suatu keseluruhan (sebuah pola yang lebih besar yang berbeda dari setiap bagian-bagiannya).
Lebih mendalam, Littlejohn mengatakan bahwa suatu sistem terdiri dari empat (4) hal, yaitu:
  1. Objek-objek. Objek adalah bagian-bagian, elemen-elemen, atau variabel-variabel dari sistem. Mereka bisa jadi berbentuk fisik atau abstrak atau kedua-duanya, tergantung dari sifat sistem.
  2. Atribut. Suatu sistem terdiri dari atribut-atribut, kualitas atau properti sistem itu dan objek-objeknya.
  3. Hubungan internal, hubungan antara anggota sistem.
  4. Lingkungan, suatu sistem memiliki suatu lingkungan. Mereka tidak hadir dalam suatu kevakuman, tetapi dipengaruhi oleh keadaan sekitarnya.
Suatu keluarga adalah suatu contoh yang baik dari suatu sistem. Anggota-anggota keluarga (bapak; ibu; anak; dan sebagainya) adalah objek dari sistem ini. Ciri-ciri mereka sebagai individu adalah atribut-atribut. Interaksi mereka keluarga membentuk hubungan antara anggota-anggotanya. Keluarga juga eksis dalam lingkungan sosial dan kultural, dan ada pengaruh bersama diantara keluarga dan lingkungannya. Anggota-anggota keluarga bukanlah orang-orang yang terisolasi, dan hubungan mereka haruslah diperhitungkan untuk memahami keluarga sebagai suatu unit.
Lebih mendalam, Littlejohn menyatakan bahwa sistem mempunyai beberapa sifat, yaitu:
a. Keseluruhan dan interdependensi (wholeness and interdependence)
Suatu sistem adalah suatu keseluruhan yang unik, karena bagian-bagiannya berhubungan satu sama lain dan tidak dapat dipahami secara terpisah. Suatu sistem adalah produk dari kekuatan-kekuatan atau interaksi-interaksi diantara bagian-bagiannya. Dan bagian-bagian dari sistem saling bergantungan atau saling mempengaruhi tidak bebas.
Independensi dengan mudah dapat digambarkan dalam keluarga. Suatu keluarga adalah suatu sistem interaksi individu, dan setiap anggota dipaksa oleh aksi anggota-anggota lainnya. Walaupun tiap orang memiliki kebebasan tak seorangpun memiliki kebebasan penuh dengan keterikatan mereka satu sama lain. Perilaku-perilaku dalam keluarga tidak independen, bebas, atau acak. Namun mereka terpola dan terstruktur agak dapat diramalkan. Apa yang anggota keluarga lakukan atau katakan mengikuti dari atau membawa suatu aksi yang lain.
b. Hirarki (hierarchy)
Sistem mempunyai hirarki, ada sistem yang lebih besar dimana suatu sistem adalah satu bagian disebut supra-sistem, dan sistem yang lebih kecil mengandung suatu sistem disebut subsistem.
Keluarga menggambarkan hirarki dengan sangat baik. Supra-sistem adalah keluarga yang diperluas, yang dirinya sendiri adalah bagian dari sistem yang lebih besar yaitu masyarakat. Beberapa unit keluarga inti adalah bagian-bagian dari yang diperluas, dan setiap unit keluarga dapat memiliki subsistem-subsistem seperti unit suami-istri, anak, unit orang tua-anak.
c. Peraturan sendiri dan control (self-regulation and control)
Sistem-sistem paling sering dipandang sebagai organisasi yang berorientasi kepada tujuan. Aktifitas-aktifitas suatu sistem dikendalikan oleh tujuan-tujuannya dan sistem itu mengatur perilakunya untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Bagian-bagian dari suatu sistem harus berperilaku berdasarkan garis-garis besar dan harus beradaptasi terhadaptasi terhadap lingkungan pada basis umpan balik.
Kembali ke contoh, keluarga-keluarga melukiskan kualitas sistem-sistem ini, dan ia dapat memiliki berbagai mekanisme kontrol. Contohnya, ia dapat bersandar pada satu anggota dominan untuk membuat keputusan-keputusan dan memberikan arahan. Orang ini memonitor keluarga itu memberikan kontrol seperlunya bilamana ada tanda-tanda penyimpangan dari standar-standar keluarga terdeteksi. Keluarga-keluarga lain dapat menagani kontrol dengan sangat berbeda, seperti dalam kasus dimana yang memiliki bagian-bagian peran yang tegas membolehkan setiap anggota mendesak kontrol terhadap jenis-jenis keputusan tertentu dan tidak bagi yang lainnya.
d. Pertukaran dengan lingkungan (interchange with environment)
Sistem-sistem berinteraksi dengan lingkungannya. Mereka mengambil ke dalam dan membiarkannya ke luar materi dan energi, memiliki masukan-masukan dan keluaran-keluaran. Contohnya, orang-orang tua harus secara tetap menyesuaikan terhadap hubungan-hubungan putranya di luar keluarga dan berurusan dengan pengaruh-pengaruh dari teman-teman, guru-guru, dan televisi.
e. Keseimbangan (balance)
Keseimbangan, seringkali merujuk kepada homeostatis (merawat sendiri). Salah satu tugas dari suatu sistem, jika ia tetap hidup, adalah tinggal dalam keseimbangan. Sistem haruslah bagaimana pun mendeteksi bilamana rusak dan membuat penyesuaian untuk kembali di atas jalurnya, penyimpangan dan perubahan muncul dan dapat ditoleransi oleh sistem, hanya bila telah lama. Akhirnya, sistem itu akan jatuh berantakan jika tidak dapat merawat dirinya.
Kebutuhan bagi keseimbangan menjelaskan mengapa keluarga-keluarga terlihat berjuang begitu keras untuk menjaga beberapa hal seimbang. Contohnya mengapa orang tua terus mengomeli anak-anaknya untuk berlaku santun? Mengapa pasangan-pasangan yang memiliki kesulitan perkawinan seringkali selalu mencoba berkumpul kembali? Dari suatu pandangan sistem, jenis usaha ini adalah suatu upaya alami untuk mempertahankan homeostatis.
f. Perubahan dan kemampuan beradaptasi (change and adaptibity)
Karena sistem eksis dalam suatu lingkungan dinamik sistem haruslah dapat beradaptasi. Sebaliknya, untuk bertahan hidup, suatu sistem haruslah memiliki keseimbangan tapi ia juga harus berubah. Sistem-sistem yang kompleks seringkali perlu berubah secara struktural untuk beradaptasi terhadap lingkungan, dan jenis perubahan itu berarti keluaran dari keimbangan untuk sesaat. Sistem-sistem yang telah maju haruslah mampu merngatur kembali dirinya untuk menyesuaikan terhadap tekanan-tekanan lingkungan. Pengertian teknis bagi perubahan sistem adalah morfogenesis.
Untuk melanjutkan contoh kita, keluarga-keluarga melakukan perubahan. Saat anggota-anggota keluarga dewasa dan berkembang, saat anggota-anggota baru hadir dan anggota lama meninggalkan, dan saat keluarga menghadapi tantangan-tantangan baru di lingkungan, ia harus beradaptasi.
g. Sama akhirnya (equifinality).
Finalitas adalah tujuan yang dicapai atau penyelesaian tugas dari suatu sistem. Equifinalty adalah suatu keadaan final tertentu bisa jadi diselesaikan dengan cara-cara yang berbeda dan titik-titik awal yang berbeda. Sistem-sistem yang dapat beradasptasi, yang memiliki keadaan final suatu tujuan, dapat mencapai tujuan itu dalam suatu beragam kondisi lingkungan. Sistem mampu dalam memproses masukan-masukan dengan cara-cara yang berbeda untuk menghasilkan keluarannya. Orang tua yang cerdik, misalnya mengetahui bahwa perilaku-perilaku anaknya dapat dipengaruhi oleh beragam teknik, pembuatan keputusan keluarga dapat terjadi dalam lebih dari satu cara dan dan anak-anak belajar beberapa metoda untuk mengamankan pemenuhan kedewasaan pada dunianya.
B. Pengertian Komunikasi
Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata Latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama, sama di sini maksudnya adalah sama makna.
Untuk memahami pengertian komunikasi sehingga dapat dilancarkan secara efektif, para peminat komunikasi sering kali mengutip paradigma yang dikemukakan oleh Harold Lasswell dalam karyanya, The Structure and Function of Communication in Society. Lasswell mengatakan bahwa cara yang baik untuk untuk menjelaskan komunikasi ialah dengan menjawab pertanyaan sebagai berikut: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect?
Paradigma Lasswell di atas menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu,yaitu:
1. Komunikator (siapa yang mengatakan?)
2. Pesan (mengatakan apa?)
3. Media (melalui canel/media apa?)
4. Komunikan (kepada siapa?)
5. Efek (dengan dampak/efek apa?).
Jadi berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu.
Berangkat dari paradigma Lasswell, Effendy (1994) membedakan proses komunikasi menjadi dua tahap, yaitu:
  1. Proses komunikasi secara primer
Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah pesan verbal (bahasa), dan pesan nonverbal (kial/gesture, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya) yang secara langsung dapat/mampu menerjemahkan pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan.
Seperti disinggung di muka, komunikasi berlangsung apabila terjadi kesamaan makna dalam pesan yang diterima oleh komunikan. Dengan kata lain , komunikasi adalah proses membuat pesan yang setala bagi komunikator dan komunikan. Prosesnya sebagai berikut, pertama-tama komunikator menyandi (encode) pesan yang akan disampaikan disampaikan kepada komunikan. Ini berarti komunikator memformulasikan pikiran dan atau perasaannya ke dalam lambang (bahasa) yang diperkirakan akan dimengerti oleh komunikan. Kemudian giliran komunikan untuk menterjemahkan (decode) pesan dari komunikator. Ini berarti ia menafsirkan lambang yang mengandung pikiran dan atau perasaan komunikator tadi dalam konteks pengertian. Yang penting dalam proses penyandian (coding) adalah komunikator dapat menyandi dan komunikan dapat menerjemahkan sandi tersebut (terdapat kesamaan makna).
Wilbur Schramm (dalam Effendy, 1994) menyatakan bahwa komunikasi akan berhasil (terdapat kesamaan makna) apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator cocok dengan kerang acuan (frame of reference) , yakni paduan pengalaman dan pengertian (collection of experiences and meanings) yang diperoleh oleh komunikan. Schramm menambahkan, bahwa bidang (field of experience) merupakan faktor prnting juga dalam komunikasi. Jika bidang pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan, komunikasi akan berlangsung lancar. Sebaliknya, bila bidang pengalaman komunikan tidak sama dengan bidang pengalaman komunikator, akan timbul kesukaran untuk mengerti satu sama lain.
  1. Proses komunikasi sekunder
Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.
Seorang komunikator menggunakan media ke dua dalam menyampaikan komunikasike karena komunikan sebagai sasaran berada di tempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Surat, telepon, teleks, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dan sebagainya adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi. Proses komunikasi secara sekunder itu menggunakan media yang dapat diklasifikasikan sebagai media massa (surat kabar, televisi, radio, dan sebagainya.) dan media nirmassa (telepon, surat, megapon, dan sebagainya.).
C. Pengertian Sistem Komunikasi
Teori sistem telah memiliki suatu pengaruh utama pada studi komunikasi manusia. Beberapa pelopor adalah:
1. Gregory Bateson (dalam Littlejohn, 1999) adalah penemu garis teori yang kemudian dikenal sebagai komunikasi relasional. Ia berpendapat bahwa dalam berkomunikasi (sebagai ujud suatu sistem) peserta komunikasi menyampaikan suatu pesan yang memuat makna mendua dan hubungan komplementaris atau simetris. Pengertian pesan bermakna mendua, yaitu pesan yang memuat isi pesan (content message) dan pesan memuat hubungan (relationship massage). Pengertian hubungan komplementer, adalah satu bentuk perilaku diikuti oleh perlaku lawannya yang bersifat melengkapi. Dalam simetri, aksi seseorang diikuti oleh aksi sejenis oleh orang lainnya. Disini mulai telihat bagaimana proses interaksi menciptakan struktur sistem, bagaimana orang merespon satu sama lain menentukan jenis hubungan yang mereka miliki.
2. Aubre Fisher (dalam perspectives on Human Communication) menerapkan konsep-konsep sistem pada komunikasi. Analisisnya dimulai dengan perilaku seperti komentar verbal dan aksi-aksi nonverbal sebagai unit terkecil dari analisis dalam sistem komunikasi. Perilaku-perilaku yang dapat diobservasi ini (suatu pesan) merupakan kendaraan satu-satunya untuk menghubungkan individu dalam suatu sistem komunikasi. Fisher percaya bahwa aliran pembicaraan ini dengan sendirinya mengatakan sedikit tentang sistem komunikasi.
Berangkat dari pengertian-pengertian diatas, sistem komunikasi dapat diartikan sebagai seperangkat hal-hal tentang proses penyampaian pesan yang berhubungan satu sama lain dan membentuk suatu keseluruhan. Layaknya suatu sistem, sistem komunikasi terdiri dari 4 (empat) hal, Yaitu:
a. Objek-objek dari sistem komunikasi, yang berupa unsur-unsur komunikasi (komunikator, pesan, media, komunikan, efek).
b. Atribut Sistem komunikasi, yang berupa kualitas atau properti sistem itu dan unsur-unsur komunikasinya.
c. Hubungan internal sistem komunikasi, hubungan antara peserta-peserta komunikasi (komunikator dan komunikan) sebagai anggota sistem, yang dapat ditandai melalui pesan-pesan komunikasi mereka.
d. Lingkungan sistem komunikasi, suatu sistem komunikasi memiliki suatu lingkungan, yaitu: sistem sosial, sistem politik, sistem budaya dan sebagainya. Mereka tidak hadir dalam suatu kevakuman, tetapi dipengaruhi oleh keadaan sekitarnya. Hubungan antar sistem itu dapat digambarkan sebagai berikut:




 

Pengertian Komunikasi Politik

Komunikasi politik

Komunikasi Politik adalah komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik, atau berkaitan dengan kekuasaan, pemerintahan, dan kebijakan pemerintah. Dengan pengertian ini, sebagai sebuah ilmu terapan, komunikasi politik bukanlah hal yang baru. Komunikasi politik juga bisa dipahami sebagai komunikasi antara "yang memerintah" dan "yang diperintah".
Menurut Gabriel Almond (1960): komunikasi politik adalah salah satu fungsi yang selalu ada dalam setiap sistem politik.

Sedangkan mengenai pengertian sistem politik terdapat beberapa macam definisi sistem politik dilihat dari pendapat para ahli. Berikut petikan definisi sistem politik menurut para ahli:

Menurut David Easton - Sistem politik merupakan alokasi nilai-nilai, dimana pengalokasian nilai-nilai itu bersifat paksaan atau dengan kewenangan, dan mengikat masyarakat secara keseluruhan.

Menurut Gabriel A. Almond - Sistem politik merupakan sistem interaksi yang terjadi di dalam masyarakat merdeka yang menjalankan fungsi integrasi untuk mencapai kesatuan dalam masyarakat dan fungsi adaptasi terhadap lingkungan, baik lingkungan dalam sistem sendiri maupun lingkungan diluar sistem.

Menurut Robert A. Dahl - Sistem politik adalah pola yang tetap dari hubungan-hubungan antar manusia yang melibatkan, sampai pada tingkat yang berarti, kontrol, pengaruh, kekuasaan, atau wewenang.

Empat Distorsi

Mochtar Pabotinggi (1993): dalam praktek proses komunikasi politik sering mengalami empat distorsi.
1. Distorsi bahasa sebagai "topeng"; ada euphemism (penghalusan kata); bahasa yang menampilkan sesuatu lain dari yang dimaksudkan atau berbeda dengan situasi sebenarnya, bisa disebut seperti diungkapkan Ben Anderson (1966), "bahasa topeng".
2. Distorsi bahasa sebagai "proyek lupa"; lupa sebagai sesuatu yang dimanipulasikan; lupa dapat diciptakan dan direncanakan bukan hanya atas satu orang, melainkan atas puluhan bahkan ratusan juta orang.
3. Distorsi bahasa sebagai "representasi"; terjadi bila kita melukiskan sesuatu tidak sebagaimana mestinya. Contoh, gambaran buruk kaum Muslimin dan orang-orang Arab oleh media Barat.
4. Distorsi bahasa sebagai “ideologi”. Ada dua perspektif yang cenderung menyebarkan distoris ideologi. Pertama, perspektif yang mengidentikkan kegiatan politik sebagai hak istimewa sekelompok orang --monopoli politik kelompok tertentu. Kedua, perspektif yang semata-mata menekankan tujuan tertinggi suatu sistem politik. Mereka yang menganut perspektif ini hanya menitikberatkan pada tujuan tertinggi sebuah sistem politik tanpa mempersoalkan apa yang sesungguhnya dikehendaki rakyat.

Proses Komunikasi Politik

Proses komunikasi politik sama dengan proses komunikasi pada umumnya (komunikasi tatap muka dan komunikasi bermedia) dengan alur dan komponen:
1. Komunikator/Sender – Pengirim pesan
2. Encoding – Proses penyusunan ide menjadi simbol/pesan
3. Message – Pesan
4. Media – Saluran
5. Decoding – Proses pemecahan/ penerjemahan simbol-simbol
6. Komunikan/Receiver – Penerima pesan
7. Feed Back – Umpan balik, respon.

Saluran Komunikasi Politik

1. Komunikasi Massa – komunikasi ‘satu-kepada-banyak’, komunikasi melalui media massa.
2. Komunikasi Tatap Muka –dalam rapat umum, konferensi pers, etc.— dan Komunikasi Berperantara –ada perantara antara komunikator dan khalayak seperti TV.
3. Komunikasi Interpersonal – komunikasi ‘satu-kepada-satu’ –e.g. door to door visit, temui publik, etc. atau Komunikasi Berperantara –e.g. pasang sambungan langsung ’hotline’ buat publik.
4. Komunikasi Organisasi – gabungan komunikasi ‘satu-kepada-satu’ dan ‘satu-kepada-banyak’: Komunikasi Tatap Muka e.g. diskusi tatap muka dengan bawahan/staf, etc. dan Komunikasi Berperantara e.g. pengedaran memorandum, sidang, konvensi, buletin, newsletter, lokakarya, etc.