Antara Komunikasi dan Politik Terdapat 2 displin yang sama sama tergolong ke dalam ilmu sosial. Menurut Pye (1963), Hubungan tersebut di nilai sangat intim dan istimewa karena di dalam kawasan politik, proses komunikasi politik menempati fungsi yang fundamental. Bagaimanapun pendekatan komunikasi telah membantu memberikan pandangan yang mendalam dan lebih halus mengenai perilaku politik.
Pada
tingkat teori, hubungan tersebut mula-mula dapat ditelusuri melalui
peranan sejumlah ilmuan politik dalam perkembangan teori dan penelitian
komunikasi. Wilbur Schramm (1980) menempatkan ilmuwan politik terkemuka pada urutan pertama dari empat orang yang disebut Bapak Pendiri Studi Komunikasi di AS.
Tokoh
dimaksud adalah Harold D. Lasswell (1902-1980), yang pada tahun 1927
menulis Propaganda “Technique in the World War”, sebagai disertasi
doktornya. Tiga tokoh lainnya datang dari disiplin psikologi Karl Lewin,
Paul Lazarsfeld dan Carl Hovland.
Di
antara karya Lasswell yang tidak terhitung jumlahnya, tulisan yang
berjudul “The Structure and Function of Communication Society”, adalah
merupakan tulisan yang sangat legendaris, dimana mengajukan rumus:
Who, says what, to whom, whit what channel and with what effect
Rumus ini merupakan salah satu bahan penting yang tidak pernah dilewatkan oleh mereka yang mempelajari ilmu komunikasi.
Pengaruh
rumus tersebut di kalangan para pembahas komunikasi politik, hingga
sekarang masih tampak jelas dalam sistematika mereka mengkaji masalah
ini, yang dikenal sebagai Lasswellian frame work.
Gabriel
A. Almond yang dikenal sebagai profesor di bidang ilmu politik di
Stanford University harus dicatat sebagai penyumbang yang bermakna dalam
rangka pemahaman komunikasi dalam suatu sistem politik.. Baik melalui
tulisannya sendiri (1960) maupun bersama Verba (1966), Coleman (1960),
Powel (1978) ia telah meletakkan dasar-dasar konseptual untuk
menganalisis dan memahami fungsi komunikasi dalam tatanan suatu sistem
politik.
Ilmuan
politik lainnya yang penting peranannya dalam mempertautkan disiplin
komunikasi dan politik adalah I Thiel de Sola Poll, V.O. Key dan G.A.
Almond. Mereka ini termasuk di antara sejumlah tokoh yang pernah menjadi
murid dan asisten Lasswell. Tokoh lain dari ilmuan politik yang
mempertautkan komunikasi dalam studi politik adalah antara lain:
Frederich W Prey, Karl V Deutsch, Walter Lippman, Arthur F Bantley, dll.
Disiplin
komunikasi sendiri telah menghasilkan sejumlah kepustakaan teori dan
penelitian yang jika ditelaah sarat dengan pembahasan baik yang langsung
maupun tidak langsung menyentuh kawasan ilmu politik. Sejumlah karya
utama penelitian komunikasi yang langsung menghampiri bidang politik
adalah penelitian mengenai pelaku pemberian suara (voting study)
dan pengauh komunikasi massa bagi respon khalayak terhadap kampanye dan
keputusan pemberian suara yang mereka lakukan dalam pemilihan umum.
Studi-studi tersebut antara lain adalah :”The people Choice” oleh Paul
L. Lazarsfeld, Bernard Barelson dan Hazel Gaude.
Tidak
berlebihan jika dikemukakan bahwa tidak ada suatu buku atau publikasi
komunikasi yang tidak menyinggung pembahsan yang berkaitan dengan bidang
politik. Di bawah kata-kata kunci seperti: efek politik media massa,
soialisasi, propaganda, kampanye, peranan politik pers, pembentukan dan
perubahan attitude, opini publik, kepemimpinan opini, perilaku media,
dan sebagainya,senantiasa tercakup ulasan yang menyinggung lapangan
politik kaitannya dengan proses komunikasi.
Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwasanya hubungan antar disiplin
komunikasi dan politik, baik pada tingkat teori, konsep-konsep, maupun
penelitian telah terjadi sejak awal perkembangan kedua disiplin itu
hingga kini.
Ilmuan
politik, seperti Lasswell sadar bahwa pentingnya makna strategis
pengendalian komunikasi bagi arena kekuasaan. Lebih jauh dikatakan
(Deutsch dan Russelbach 1965) teori komunikasi memungkinkan kita untuk
melihat soal yang pelik seperti masalah kesadaran dan kemauan politik
menjadi suatu proses yang mudah diamati.
Komunikasi Politik dalam Praktek
Dalam
kehidupan nyata sehari-hari, semua orang baik pejabat maupun warga
negara biasa, memerlukan informasi tentang apa yang terjadi di
sekelilingnya, agar ia memperoleh bekal yang cukup untuk mengambil
keputusan dalam menjalani agenda hidup masin-masing. Informasi hanya
bisa diperoleh bila sistem yang menyebarkannya berfungsi dengan baik,
sehingga setiap pihak berksempatan memperoleh apa yang diperlukan
masing-masing. Kacuali itu, informasi yang diperlukan tersebut harus
pula efektif dalam arti benar-benar memenuhi kebutuhan pihak yang
membutuhkannya.
Salah
satu jenis informasi yang diperlukan dalam hidup bernegara adalah
mengenai kegiatan masing-masing pihak menurut fungsinya. Pemerintah
menyebarkan informasi tentang kegiatan rakyatnya, sedangkan rakyat
sebaliknya, harus pula mengetahui apa yang dikerjakan oleh
pemerintahnya.
Itulah sebabnya teori-teori mengenai sistem politik demokrasi selalu memberi tekanan mengenai keharusan adanya kebebasan pers (freedom of the pers)
dan berbicara(freedom of speech) serta menyatakan pendapat (freedom of
expression) antara lain agar masyarakat bisa memeriksa akrivitas
pemerintah mereka dan memberikan masukan yang mereka anggap perlu.
Menurut Davison (1965), banyak dari karakteristik demokrasi yang
tergantung pada adanya akses yang bebas bagi semua kelompok warga negara
kepada saluran-saluran komunikasi baik dalam kedudukan mereka sebagai
sumber (source) maupun sebagai khalayak (audience).
Pada
pihak lain, para pemimpin totaliter mendominasi lembaga-lembaga
informasi tersebut dan memanipulasi informasi yang tersedia bagi warga
negaranya. Dalam situasi negara seperti itu, tentulah asas-asas penting
demokrasi yang disebut diatas tidak menjadi dasar yang menentukan dalam
kehidupan politik di negara yang dimaksud. Sebagai konsekuensinya,
arus-arus informasi komunikasi politik di negara semacam ini tidak
timbal balik melainkan hanya searah, dari pemerintah pada rakyat.
Sejak
masa kerajaan-kerajaan historis dahulu kala pun, struktur komunikasi
khusus untuk kepentingan politik suatu negara, bahkan dengan pembiayaan
yang cukup besar untuk memelihara sumber-sumber (resources) adalah amat pentung bagi arus informasi yang dibutuhkan .
Di
jaman Jengis Khan misalnya, kerajaan itu punya sistem pengiriman surat
(kurir) yang menghubungkan seluruh wilayah kerajaan dengan kecepatan
yang mengagumkan. Kerajaan Mesopotamia (Mesir Kuno) mempertautkan arus
komunikasi di wilayahnya melalui armada perahu yang berlayar sepanjang
sungai Nil.
Di
jaman sekarang, kita saksikan sendiri betapa setiap negara melengkapi
diri dengan perangkat komunikasi yang mampu meliput setidak-tidaknya
sebagian terbesar wilayah kekuasaannnya dengan tujuan menjangkau bagian
terbesar khalayak yang mempunyai potensi politik bagi kelangsungan
sistem politik negara yang bersangkutan.
Apa Komunikasi itu?
Bahkan pada musim inflasi definisi komunikasi seakan-akan diobral. Bergantung pada titik pandangnya :
Komunikasi adalah pengalihan informasi untuk memperoleh tanggapan.
Letak ciri utama komunikasi
· Orang
mengamati berbagai hal, menginterpretasikannya, menyusun makna,
bertindak berdasrkan makna itu.,dengan demikian, mengungkapkan makna
itu.
Ada tiga jenis yang diamati orang:
1. obyek fisik yang beraneka ragam sejak kursi, tumbuhan, dan mobil sampai dengan keadaan cuaca.
2. obyek sosial, baik orang lain maupun dirinya sendiri.
3. obyek abstrak, seperti gagasan. ajaran, perasaan, dan keinginan.
Tindakan
apapun yang dilakukan seseorang dalam kehadiran orang lain (bahkan
secara diam-diam, dengan menghindari pandangan, atau pergi, apalagi
berbicara) memiliki nilai pesan. Artinya, setiap tindakan adalah sesuatu
yang orang lain dapat diamati , mengiterpretasikan, membaca makna dan
menggunakannya untuk menyusun suatu kesan atau cerita
Bila disederhanakan:“seseorang tidak dapat tidak berkomunikasi bila dihadiri oleh orang lain”
Apa Politik dan Komunikasi Politik?
Sebagaimana komunikasi, terdapat berbagai macam definisi tentang politik:
· Politik adalah, siapa memperoleh apa, kapan, dan bagaimana.
· Pembagian nilai-nilai oleh yang berwenang.
· Kekuasaan dan pemegang kekuasaan.
· Pengaruh
· Tindakan yang di arahkan untuk mempertahankan dan atau memperluas tindakan lainnya.
Dari
semua pandangan yang beragam itu, ada penyesuaian umum bahwa politik
mencangkup sesuatu yang dilakukan orang. Politik adalah kegiatan. Dan
Nimmo (1989) mengartikan politik, kegiatan orang secara kolektif yang
mengatur perbuatan mereka di dalam kondisi konflik sosial.
Dalam
berbagai hal, orang berbeda satu sama lain – jasmani, bakat, emosi,
kebutuhan, cita-cita, inisiatif, perilaku, dan sebagainnya – dan
perbedaan ini merangsang argumen, perselisihan, dan percekcokan. Jika
mereka menganggap perselisihan itu serius, perhatikan mereka dengan
memperkenalkan masalah yang bertentangan itu, dan selesaikan, inilah
kegiatan politik.
Politik
adalah kegiatan berkomunikasi antar orang-orang. Komunikasi meliputi
politik. Bila orang mengamati konflik, mereka menurunkan makna
perselisihan melalui komunikasi. Bila orang menyelesaikan perselisihan
mereka, penyelesaian itu adalah hal-hal yang diamati, diinterpretasikan,
dan dipertukarkan melalui komunikasi. Banyak aspek kehidupan politik
dapat dilukiskan sebagai komunikasi.
Komunikasi
politik, yaitu (kegiatan) komunikasi yang dianggap komunikasi politik
berdasarkan konsekuensi-konsekuensinya (akutual meupun potensial) yang
mengatur perbuatan manusia di dalam kondisi-kondisi konflik.
assalamuallaikum, kalau sumbernysa daftar pustaka bisa di infokan nga..?
BalasHapusSands Casino Online - Play Online Casino Games for Real Money
BalasHapusPlay the best online casino games at Sands Casino online - No 메리트카지노총판 Download, No Registration Required! 샌즈카지노 Play with or Register Today!Online Casino · Games at the Sands Online · Poker Tournaments · Poker 인카지노 Tournaments